By Erfi Ilyas
erfiilyas@yahoo.com
Standar ISO 9001:2008 terdiri dari dua bagian utama.
Bagian pertama berisi pendahuluan dan bagian kedua berisi persyaratan sistem
manajemen mutu. Bagian pendahuluan memuat informasi tentang; umum, pendekatan
proses, hubungan dengan ISO 9004, dan kesesuaian dengan sistem manajemen lain. Sementara itu bagian kedua
menguraikan secara rinci persyaratan sistem manajemen mutu yang harus diikuti
organisasi ketika memutuskan untuk menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008.
Berikut ini akan diuraikan secara ringkas isi dari persyaratan ISO 9001:2008
dimaksud.
Pendahuluan (Introduction)
0.1
Umum (General)
Bagian ini
memberikan penjelasan bahwa adopsi sistem manajemen mutu harus menjadi
keputusan strategis organisasi. Disain dan penerapan sistem manajemen mutu
suatu organisasi dipengaruhi oleh
a) lingkungan
organisasi itu sendiri, perubahan dalam lingkungan tersebut, dan resiko yang
berhubungan dengan lingkungan,
b)
kebutuhan
yang berbeda,
c)
sasaran
khusus,
d)
produk
yang disediakan,
e)
proses
yang digunakan,
f)
ukuran
dan struktur organisasi.
Dijelaskan pula pada bagian ini bahwa standar internasional
ini tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan sistem manajemen mutu atau
menyeragamkan dokumentasi.
Standar internasional ini dapat digunakan oleh pihak
internal dan eksternal organisasi, termasuk badan sertifikasi, untuk menilai
apakah organisasi memiliki kemampuan memenuhi persyaratan pelanggan,
persyaratan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku terhadap produk,
maupun persyaratan organisasi sendiri.
Ditegaskan pula dalam bagian ini bahwa prinsip-prinsip
manajemen mutu yang dinyatakan dalam ISO 9000 dan ISO 9004 telah
dipertimbangkan dalam pengembangan standar ini.
Mencermati isi bagian ini dapat dipahami bahwa pada
hakekatnya keputusan menerapkan ISO 9001:2008 adalah merupakan keputusan
strategis. Keputusan yang didasarkan
pada pertimbangan matang berlandaskan kerangka berpikir logis melalui pemahaman
yang baik tentang dimana organisasi berada, kemana organisasi tersebut akan
dibawa dan bagaimana caranya bisa sampai disana. Oleh karena itu, adalah sebuah kekeliruan
besar bila organisasi menerapkan ISO 9001 hanya untuk tujuan memperoleh
sertifikat.
Dalam bagian ini diperoleh pula
penjelasan bahwa disain dan penerapan sistem manajemen mutu tidaklah sama
antara satu organisasi dengan organisasi lainnya, karena dipengaruhi oleh
banyak faktor sebagaimana di uraikan di atas. Dijelaskan pula bahwa standar internasional ini tidak
dimaksudkan untuk menyeragamkan sistem manajemen mutu dan dokumentasinya. Disain sistem manajemen mutu dan bentuk penulisan dokumen
tidak diatur dalam standar ini, sepenuhnya diserahkan pada masing-masing
organisasi.
0.2
Pendekatan proses (Process
approach)
Dijelaskan
pada bagian ini bahwa standar internasional ISO 9001:2008 menyarankan adopsi
pendekatan proses pada saat mengembangkan, menerapkan, dan memperbaiki
efektifitas sistem manajemen mutu, guna meningkatkan kepuasan pelanggan dengan
jalan memenuhi persyaratan pelanggan.
Agar dapat berfungsi secara efektif organisasi harus
menetapkan dan mengelola sejumlah kegiatan yang saling berhubungan satu sama
lain. Satu kegiatan atau seperengkat kegiatan yang menggunakan sumber daya, dan
dikelola untuk memungkinkan transformasi input menjadi output, dapat dipertimbangkan
sebagi proses. Seringkali output dari satu proses langsung menjadi input dari
proses berikutnya.
Dijelaskan pula pada bagian ini bahwa penerapan sistem
proses dalam organisasi, bersama-sama dengan identifikasi dan interaksi dari
proses-proses tersebut berikut pengelolaannya untuk menghasilkan “outcomes” yang diharapkan dapat dianggap
sebagai “pendekatan proses” (process approach).
Keunggulan dari pendekatan proses adalah adanya kendali yang
terus menerus (ongoing control)
terhadap hubungan antar proses secara individu yang ada dalam sistem proses
maupun kombinasi dan interaksi diantara proses-proses tersebut.
Bila digunakan dalam sistem manajemen mutu, pendekatan
semacam itu menekankan pentingnya
a)
pemahaman
dan pemenuhan persyaratan,
b)
kebutuhan
untuk mempertimbangkan proses-proses dalam hal nilai tambah (added value),
c)
mendapatkan
hasil dari kinerja dan keefektifan proses, dan
d)
perbaikan
berlanjut proses-proses tersebut didasarkan pada pengukuran yang objektif.
Model sistem manajemen mutu berdasarkan proses yang
ditunjukkan gambar 1 menggambarkan keterkaitan proses-proses yang disajikan
dalam klausul 4 sampai 8. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa pelanggan memainkan
peran yang signifikan dalam menetapkan persyaratan sebagai input. Pemantauan
kepuasan pelanggan memerlukan evaluasi informasi terkait dengan persepsi
pelanggan apakah organisasi telah memenuhi persyaratan pelanggan. Model yang
ditunjukkan gambar satu mencakup seluruh persyaratan standar internasional ini,
tetapi tidak menunjukkan proses-proses pada tingkat yang lebih rinci.
CATATAN Selain itu,
metodologi yang dikenal dengan “Plan-Do-Check-Act” (PDCA) dapat
diterapkan pada semua proses. PDCA secara ringkas dapat diuaraikan sebagai
berikut:
Plan :
tetapkan sasaran dan proses-proses yang diperlukan untuk menyerahkan hasil
sesuai dengan persyaratan pelanggan dan kebijakan organisasi.
Do : terapkan
proses-proses tersebut
Check : pantau dan ukur produk dan proses-proses
tersebut terhadap kebijakan, sasaran dan
persyaratan produk dan laporkan hasilnya.
Act : ambil tindakan
untuk memperbaiki kinerja proses secara berkelanjutan.
Gambar 1
Model sistem manajemen mutu
berdasarkan proses.
Mencermati model sistem manajemen
mutu berdasarkan proses berikut penjelasanya, dapat dimengerti bahwa ”starting poin” dari kegiatan apapun yang
dilakukan organisasi terutama dalam perencanaan dan realisasi produk adalah apa
yang menjadi persyaratan pelanggan. Kecuali itu, organisasi juga dituntut
melakukan pengukuran terhadap kepuasan pelanggan, apakah produk yang dihasilkan
telah memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan. Hasil pengukuran harus
dianalisis untuk kemudian dijadikan dasar melakukan perbaikan terhadap
proses-proses sistem manajemen mutu maupun produk akhir. Bila hal ini dilakukan
organisasi secara konsisten, maka akan
terujud perbaikan berlanjut atau berkesinambunagn dari sistem manajemen
mutu.
0.3
Hubungan dengan ISO 9004 (Relationship with ISO 9004)
Dijelaskan
pada bagian ini bahwa ISO 9001 dan ISO 9004 adalah standar sistem manajemen
mutu yang telah didisain untuk saling melengkapi satu sama lain, tetap juga
dapat digunakan secara independen atau sendiri-sendiri.
ISO 9001 menetapkan persyaratan untuk sistem manajemen mutu
yang dapat digunakan oleh organisasi untuk aplikasi internal, atau untuk
sertifikasi, atau untuk tujuan kontrak. Standar ISO 9001 memusatkan perhatian
(fokus) pada efektifitas sistem manajemen mutu dalam memenuhi persyaratan
pelanggan.
Dijelaskan pula dalam bagian ini bahwa pada saat standar
internasional ini dipublikasikan (baca tahun 2008), ISO 9004 sedang dalam
proses revisi. Edisi revisi dari ISO 9004 akan menyediakan panduan untuk
manajemen dalam mencapai sukses berkelanjutan (sustained success) bagi setiap organisasi dalam lingkungan yang
kompleks, penuh tantangan dan selalu berubah. ISO 9004 menyediakan pusat
perhatian (fokus) yang lebih luas pada manjemen mutu dibanding ISO 9001; ISO
9004 mengakomodir kebutuhan dan harapan seluruh pemangku kepentingan (interested parties) berikut kepuasannya
melalui perbaikan kinerja organisasi secara sistematis dan berkelanjutan atau
berkesinambungan. Namun demikian, ISO 9004 tidak dimaksudkan untuk sertifikasi,
regulasi atau kontrak.
Seperti diketahui bahwa ISO 9004 telah dipublikasikan pada
tahun 2009 dengan seri ISO 9004:2009 yang berisi tentang Pengelolaan organisasi
untuk sukses berkelanjutan – Pendekatan sistem manajemen mutu.
0.4
Kesesuaian dengan sistem manajemen lain (Compatibility with other management systems)
Pada bagian
ini dijelaskan bahwa selama pengembangan standar internasional ini (baca ISO
9001:2008), diberikan pertimbangan khusus pada ISO 14001:2004 untuk
meningkatkan kesesuaian kedua standar ini sehingga memberikan manfaat bagi
komunitas pengguna kedua standar tersebut.
Dijelaskan pula pada bagian ini bahwa standar iternasional
ini tidak mencakup persyaratan yang spesifik bagi sistem manajemen lain,
seperti yang khusus untuk manajemen lingkungan, manajemen kesehatan dan
keselamatan kerja, manajemen keuangan atau manajemen resiko. Namun demikian,
standar internasional ini memungkinkan organisasi menyelaraskan atau
mengintegrasikan sistem manajemen mutunya dengan persyaratan sistem manajemen
mutu terkait. Adalah memungkinkan bagi
organisasi untuk menyesuaikan sistem manajemen mutu yang ada untuk menetapkan
sistem manajemen mutu guna memenuhi persyaratan standar internasional ini.
Dengan demikian jelas bahwa standar sistem manajeman mutu,
sistem manajemen lingkungan, sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja
dapat diintegrasikan atau dipadukan, sehingga pengunaan sumber daya menjadi
lebih efisien. Dalam prakteknya
di lapangan sering dikenal dengan istilah sistem terintegrasi (integrated system). Artinya, ketiga
sistem manajemen tersebut, yakni sistem manajemen mutu, sistem manajemen
lingkungan, dan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja disatukan
dalam satu sistem manajemen.
Hoyle, David. (2003) . ISO 9000 Quality Systems Handbook. London:
Butterworth Heinemann.
The
International Organization for Standardization. (2008) . ISO 9001:2008 Quality Management System: Requirement. Geneva: Author.
NOTE Mohon perkenannya untuk memberi komentar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar